Ketika Melakukan Kesalahan (Part 3)

Lukisan karya Haryo SAS

 oleh Ajahn Brahm

Di dalam kehidupan kita ini, kita sering lupa bahwa melakukan kesalahan bukanlah suatu hal yang besar. Di dalam agama Buddha, tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan. Tidak apa-apa untuk menjadi tidak sempurna. Menakjubkan bukan? Ini artinya kita memiliki kebebasan untuk menjadi seorang manusia, daripada menganggap diri kita sebagai seseorang yang hebat dan besar yang tak pernah melakukan kesalahan. Mengerikan bukan, jika kita berpikir bahwa kita tidak diijinkan untuk melakukan kesalahan, karena kita memang melakukan kesalahan, lalu kita harus bersembunyi dan mencoba untuk menutupinya. Jadi, rumah bukan lagi menjadi suatu tempat yang damai dan tenang dan menyenangkan. Tentu saja kebanyakan orang yang skeptis akan berkata: “Okelah, jika anda mengijinkan orang-orang untuk melakukan kesalahan, bagaimana mereka akan pernah belajar? Mereka bahkan hanya akan terus-menerus melakukan lebih banyak kesalahan lagi”. Tetapi itu bukanlah cara kerjanya yang sebenarnya.

Untuk menggambarkan hal ini, ketika saya masih seorang remaja, ayah saya berkata kepada saya bahwa dia tidak akan pernah mengusir saya keluar atau menutup pintu rumahnya bagi saya, apa pun yang saya lakukan; saya akan selalu diijinkan untuk tinggal di sana, bahkan jika saya telah melakukan kesalahan yang paling besar sekalipun. Ketika saya mendengar itu, saya memahaminya sebagai suatu ungkapan kasih sayang, dari penerimaan. Itu menginspirasi saya dan saya begitu menghormatinya sehingga saya tidak ingin menyakitinya, saya tidak ingin mempersulitnya, dan oleh karena itu saya pun mencoba jauh lebih keras lagi untuk menjadi orang yang berharga baginya.

Sekarang, jika kita bisa mencobanya terhadap orang-orang yang tinggal dan hidup bersama kita, kita akan melihat bahwa itu memberikan mereka kebebasan dan kesempatan untuk rileks dan menjadi damai, dan ia meredakan semua ketegangan. Di dalam kelegaan itu, muncullah rasa hormat dan kepedulian terhadap orang lain. Jadi, saya menantang anda untuk mencoba mengijinkan orang-orang untuk melakukan kesalahan – untuk berkata kepada pasangan hidup anda, orangtua anda dan anak-anak anda: “Pintu rumahku akan selalu terbuka bagimu; pintu hatiku akan selalu terbuka bagimu, tak peduli apapun yang kamu lakukan.” Katakan juga pada diri anda sendiri: “Pintu rumahku selalu terbuka untukku.” Ijinkan diri anda untuk melakukan kesalahan juga. Dapatkah anda mengingat semua kesalahan yang telah anda lakukan pada minggu yang lalu? Bisakah anda membiarkannya, bisakah anda tetap menjadi teman bagi diri anda sendiri? Hanya ketika kita mengijinkan diri kita sendiri untuk melakukan kesalahan sajalah, maka pada akhirnya kita bisa menjadi tenang.

Itulah yang kita maksud dengan mengasihi, dengan metta, dengan cinta kasih. Ia harus tanpa syarat. Jika anda menyayangi seseorang hanya karena mereka melakukan apa yang anda suka, atau karena mereka selalu memenuhi harapan anda, maka tentu saja cinta seperti itu tidak begitu berharga. Itu seperti cinta bisnis: “Aku akan mencintaimu jika kamu memberikan aku sesuatu sebagai gantinya.”

Ketika pertama kali saya menjadi bhikkhu, saya berpikir bahwa bhikkhu haruslah sempurna. Saya pikir mereka seharusnya tidak boleh melakukan kesalahan; bahwa ketika mereka duduk bermeditasi, mereka harus selalu duduk dengan tegak. Tetapi bagi anda-anda yang pernah duduk bermeditasi pada jam 4:30 pagi, terlebih setelah bekerja keras sehari sebelumnya, anda akan tahu bahwa anda bisa saja menjadi lelah; tubuh anda menjadi miring, kepala anda bahkan bisa tertunduk. Tetapi itu tidak apa-apa. Tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan. Dapatkah anda merasakan kelegaannya, bagaimana semua ketegangan dan tekanan menjadi hilang begitu anda mengijinkan diri anda untuk membuat kesalahan?

Masalahnya adalah kita cenderung membesar-besarkan kesalahan dan melupakan keberhasilan, yang menimbulkan begitu besar beban kesalahan yang harus ditanggung. Jadi sebaliknya kita bisa beralih kepada keberhasilan kita, hal-hal baik yang telah kita perbuat di dalam kehidupan kita; kita bisa menyebutnya sifat Buddha di dalam diri kita. Jika anda beralih kepadanya, ia akan berkembang; dan jika anda berpaling kepada kesalahan, mereka pun akan berkembang. Jika anda merenungkan bentuk-bentuk pikiran apa pun di dalam batin, latihan pikiran apa pun itu, ia akan berkembang dan berkembang, benar bukan? Jadi, kita mengalihkan hati kita dan merenungkan hal-hal yang positif pada diri kita, kemurnian, kebaikan, sumber dari cinta kasih tanpa syarat – yang ingin menolong, mengorbankan bahkan kesenangan diri kita sendiri untuk makhluk lain. Inilah cara kita untuk memperhatikan bagian dalam diri kita, hati kita. Memaafkan kesalahannya, kita merenungkan kemuliaannya, kemurniannya, kebaikannya. Kita bisa melakukan hal yang sama kepada orang lain, kita bisa merenungkan kebaikan-kebaikan mereka dan memperhatikannya tumbuh berkembang.

Inilah yang kita sebut karma – perbuatan; cara kita berpikir tentang kehidupan, cara kita berbicara tentang kehidupan, apa yang kita lakukan dengan kehidupan. Dan, memang benar, itu semua tergantung pada kita apapun yang kita lakukan, ia tidak tergantung pada makhluk-makhluk supranatural di atas sana yang menentukan apakah anda akan bahagia atau tidak. Kebahagiaan anda sepenuhnya berada di tangan anda, di dalam kekuasaan anda. Inilah yang kita maksud dengan karma. Ia seperti membuat kue: karma menentukan bahan baku apa yang anda miliki, apa yang harus anda pergunakan. Jadi, seseorang dengan karma yang tidak menguntungkan, mungkin sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan mereka di masa lampau, tidak memiliki banyak bahan baku. Mungkin mereka hanya memiliki sejumlah tepung yang sudah keras, satu atau dua kismis, jika ada, dan mentega yang sudah amis, dan – apa lagi untuk membuat kue? – sejumlah gula… dan hanya itu saja yang mereka miliki. Dan seseorang yang lain mungkin memiliki karma yang sangat bagus, segala bahan baku yang bisa anda mimpikan: segala macam tepung gandum, gula merah dan semua jenis buah-buahan kering dan kacang-kacangan. Tetapi, kue yang dihasilkan pada akhirnya… Bahkan dengan bahan baku yang begitu minim, beberapa orang bisa membuat kue yang bagus. Mereka mencampurkan semuanya, memasukkannya ke dalam oven – lezatnya! Bagaimana mereka melakukannya? Dan kemudian orang lain mungkin memiliki segalanya, tetapi kue yang mereka buat sangat tidak enak.

Jadi, karma menentukan bahan bakunya, apa saja yang kita miliki; tetapi ia tidak menentukan apa yang bisa kita buat dari bahan baku tersebut. Jadi, jika seseorang itu bijaksana, tidak peduli apa yang mereka miliki. Anda tetap saja bisa membuat kue yang bagus – selama anda mengetahui bagaimana cara membuatnya.

Tentu saja, hal pertama yang perlu diketahui adalah bahwa cara yang tidak efektif untuk membuat kue yang bagus adalah dengan mengeluh setiap saat tentang bahan baku yang anda miliki. Kadang-kadang di vihara, jika bahan baku yang diperlukan tidak ada, orang-orang yang memasak akan mencarinya di lemari makan dan memakai apa saja yang bisa ditemukan di sana. Mereka harus fleksibel dan anda akan mendapatkan beberapa jenis kue yang sangat aneh, tetapi semuanya lezat, karena orang-orang telah mempelajari seni untuk memanfaatkan apa pun yang mereka miliki dan membuat sesuatu darinya.

Jadi, ke mana karma itu menuju? Apa yang sebenarnya kita hasilkan darinya? Apakah untuk menjadi kaya atau memiliki kekuasaan? Tidak. Meditasi ini, agama Buddha ini, arah yang kita tuju, adalah untuk mencapai pencerahan. Kita mempergunakan bahan baku yang kita miliki untuk menjadi tercerahkan. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan pencerahan? Pencerahan artinya tidak ada lagi kemarahan yang tinggal di dalam hati anda. Tidak ada lagi keinginan pribadi atau khayalan yang tinggal di dalam hati anda.

Pada suatu masa, ada seorang guru dari Rusia yang bernama Gurdjief yang memiliki kelompok kehidupan sendiri di Perancis. Di dalam kelompoknya, ada seorang pengikut yang selalu membikin kekacauan. Dia selalu mengganggu orang-orang dan membuat mereka tidak nyaman. Jadi, para anggota kelompok yang lain bermaksud untuk secara bersama-sama meminta Gurdjief untuk mengirimnya pergi, untuk mengusirnya, karena dia selalu berdebat dan membuat orang-orang tidak senang. Namun Gurdjief tidak mau. Tetapi belakangan, setelah Gurdjief meninggal dunia, mereka baru mengetahui bahwa ternyata Gurdjief sendirilah yang membayar orang tersebut untuk tinggal di sana! Setiap orang harus membayar sejumlah biaya untuk tinggal di sana. Tetapi Gurdjief malah membayar orang tersebut untuk tinggal di sana – untuk memberi suatu pelajaran pada orang-orang. Jika anda hanya bisa bahagia ketika tinggal dengan orang-orang yang anda sukai, kebahagiaan anda menjadi tidak berharga, karena anda tidak diuji. Sama seperti segelas air yang berlumpur, bila ia tidak diguncang, kelihatannya jernih bukan? Tetapi begitu ia digoyang-goyang, lumpur akan bergerak dari dasar dan muncul ke permukaan. Adalah hal yang bagus untuk menggoyang-goyang gelas anda hanya untuk melihat apa sebenarnya yang ada di dalamnya. Jadi, Gurdjief membayar si pembuat keributan ini untuk menguji setiap orang untuk melihat apa sebenarnya yang ada di sana.

Indikator yang sangat bagus untuk menunjukkan tingkatan seseorang dalam kehidupan spiritualnya adalah dengan melihat sampai di mana anda bisa berhubungan baik dengan orang lain – terutama dengan orang-orang yang sulit untuk dihadapi. Dapatkah anda tetap damai ketika seseorang menyulitkan anda? Sanggupkah anda melepaskan kemarahan dan sakit hati terhadap seseorang, suatu tempat, atau terhadap diri anda sendiri? Pada akhirnya kita memang harus, atau kita tidak akan pernah mencapai pencerahan, kita tidak akan pernah mendapatkan kedamaian.

Bayangkan bagaimana rasanya untuk mengatakan: “Takkan pernah lagi saya akan sakit hati, takkan pernah lagi saya akan melawan atau menolak seseorang atau tingkah laku mereka. Jika saya tidak dapat melakukan apa pun terhadapnya, saya akan belajar untuk hidup berdampingan secara damai dengan apa yang tidak saya sukai. Saya akan belajar untuk secara damai menerima rasa sakit, daripada selalu memalingkan wajah saya dari rasa sakit dan mencari kesenangan.” Bayangkan itu!

Kadang-kadang orang berpikir jika anda tidak marah maka anda hanyalah sayur-sayuran, anda hanya mengijinkan pihak lain untuk melangkahi anda, anda akan menjadi seseorang yang duduk di sini dan tidak melakukan apa pun. Tetapi tanyakan pada diri anda sendiri: “Apa yang anda rasakan setelah anda selesai marah? Apakah anda merasa penuh semangat, sangat bertenaga?” Kita menjadi lelah ketika kita marah; ia hanya menghabiskan begitu banyak energi di hati kita. Bahkan bila kita merasa sakit hati atau negatif terhadap seseorang atau suatu tempat, itu akan menghabiskan energi. Jadi, jika kita tidak ingin merasa begitu lelah dan tertekan, kita bisa mencoba, sebagai eksperimen, untuk jangan merasa sakit hati. Perhatikanlah bagaimana jauh lebih tinggi kesadaran dan semangat yang kita rasakan. Lalu kita bisa mengirimkan energi keluar untuk peduli terhadap orang lain, dan untuk peduli terhadap diri kita sendiri juga. Ia sepenuhnya berada di dalam kekuasaan kita untuk melakukannya. Jika anda benar-benar ingin berada pada jalur cepat menuju pencerahan, cobalah untuk melepaskan rasa sakit hati dan kemarahan.

Jadi, bagaimanakah anda melepaskannya? Pertama-tama, dengan menginginkan untuk melepaskannya. Tetapi kebanyakan dari kita tidak ingin melepaskan kemarahan dan sakit hati kita – untuk beberapa alasan yang tidak jelas, kita malah menyukainya. Ada sebuah cerita kecil yang sangat bagus tentang dua orang bhikkhu yang tinggal bersama-sama di sebuah vihara selama bertahun-tahun; mereka adalah sahabat baik. Kemudian mereka masing-masing meninggal dunia hanya selang beberapa bulan saja di antaranya. Salah seorang di antara mereka terlahir kembali di alam surga, bhikkhu yang lain dilahirkan kembali sebagai seekor cacing dalam tumpukan kotoran. Bhikkhu yang berada di alam surga melewati saat-saat yang menyenangkan, menikmati semua kesenangan surgawi. Lalu dia mulai teringat akan sahabatnya, “Saya penasaran ke mana sahabat lama saya pergi?” Jadi, dia menelusuri ke semua alam surga, tetapi dia tidak dapat menemukan jejak temannya tersebut. Kemudian dia mencari-cari di alam manusia, tetapi dia juga tidak dapat menemukan jejak sang sahabat di sana, jadi dia pun melihat ke alam binatang dan selanjutnya ke alam serangga. Akhirnya dia menemukannya, dilahirkan kembali sebagai cacing dalam tumpukan kotoran… Wah! Dia berpikir: “Saya akan menolong sahabat saya. Saya akan turun ke bawah sana ke dalam tumpukan kotoran itu dan mengangkat dia ke alam surga, sehingga dia juga bisa menikmati kesenangan surgawi dan kehidupan bahagia di alam yang menyenangkan ini.”

Jadi, dia turun ke bawah menuju ke tumpukan kotoran itu dan memanggil temannya. Dan si cacing kecil itu merayap keluar dan berkata: “Siapa kamu?”. “Saya adalah temanmu. Kita sama-sama pernah menjadi bhikkhu di kehidupan kita yang terdahulu, dan saya datang untuk membawamu ke alam surga di mana kehidupan begitu indah dan bahagia.” Tetapi si cacing berkata: “Pergi sana, enyah!” “Tetapi saya adalah sahabatmu, dan saya tinggal di alam surga,” dan dia pun menjelaskan secara rinci tentang alam surga kepadanya. Tetapi si cacing berkata: “Tidak, terima kasih, saya cukup bahagia di sini di dalam kotoran saya ini. Tolong pergi saja.” Kemudian sang makhluk surgawi tersebut berpikir: “Jikalau saya bisa memegangnya dan menariknya ke alam surga, dia akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.” Jadi dia pun memegang si cacing dan mulai menariknya; dan semakin kuat dia menarik, semakin kuat pula si cacing bertahan di dalam tumpukan kotoran.

Apakah anda memahami pesan moral dari cerita ini? Berapa banyak dari kita yang melekat pada tumpukan kotoran kita. Ketika seseorang mencoba menarik kita keluar, kita malah menyusup kembali ke dalam karena itulah kebiasaan kita, kita senang berada di sana. Kadang-kadang kita sebenarnya melekat pada kebiasaan lama kita, kemarahan kita dan nafsu keinginan kita. Kadang-kadang kita ingin marah.

Jadi, lain kali jika anda marah, berhenti dan perhatikanlah. Ambillah sedikit waktu untuk melihat dengan penuh perhatian, apa yang anda rasakan. Tegaskan, ingatkan diri anda: “Lain kali jika aku marah, aku akan merasakannya, daripada mencoba sok pintar, untuk memaksakan kehendakku sendiri atau untuk menyakiti orang lain.” Perhatikan saja bagaimana rasanya. Begitu anda memperhatikan bagaimana rasanya kemarahan itu dengan hati anda – bukan dengan kepala anda – maka akan ada keinginan untuk melepaskannya; karena ia sungguh menyakitkan, ia adalah penderitaan.

Jika saja orang-orang bisa lebih sadar, lebih sadar – mengetahui bagaimana rasanya, daripada memikirkannya, maka tidak akan ada masalah lagi. Mereka akan melepaskan kemarahan itu pergi dengan sangat cepat karena ia begitu panas, ia membakar. Tetapi kita cenderung melihat dunia ini dengan kepala kita daripada dengan hati kita. Kita memikirkannya, tetapi sangat jarang sekali kita merasakannya, mengalaminya. Meditasi mulai menghubungkan anda dengan hati anda lagi: dan untuk lepas dari berpikir dan berkeluh kesah, di mana semua kemarahan dan nafsu keinginan muncul.

Bila anda datang dari hati, anda dapat merasakannya sendiri, anda bisa berdamai dengan diri anda sendiri, anda bisa peduli dengan diri anda sendiri. Bila saya datang dari hati, saya juga bisa menghargai hati orang lain pula. Begitulah caranya kita mencintai musuh-musuh kita, ketika kita menghargai hati mereka, melihat sesuatu untuk dicintai di sana, untuk dihormati.

Orang-orang menjadi marah karena mereka terluka, mereka tidak tenang. Tetapi jika kita bahagia, kita tidak akan pernah marah kepada orang lain; hanya jika kita merasa tertekan, lelah, frustrasi, mengalami saat-saat yang sulit; ketika kita merasa sakit di dalam hati kita, pada saat itulah kita bisa marah kepada orang lain. Jadi, ketika seseorang marah pada saya, saya merasa kasihan dan simpati terhadap orang tersebut, karena saya menyadari bahwa mereka terluka.

Pertama kali saya pergi mengunjungi seseorang yang dianggap sudah tercerahkan, saya berpikir, “Waduh! Saya lebih baik memastikan diri untuk bermeditasi terlebih dahulu sebelum saya sudah berada dalam jarak sepuluh mil darinya, karena dia pasti akan bisa membaca pikiran saya, dan itu akan menjadi sesuatu yang sangat memalukan!” Tetapi seseorang yang telah tercerahkan tidak akan berbuat jahat dan menyakiti anda. Seseorang yang telah tercerahkan akan menerima anda dan menenangkan anda. Itu adalah suatu perasaan yang menakjubkan, bukan? Hanya dengan menerima diri anda sendiri. Anda bisa rileks saja, tanpa kemarahan dan sakit hati. Di sana ada pemahaman yang luar biasa, pencerahan yang luar biasa, bahwa anda baik-baik saja. Begitu banyak penderitaan yang akan dibebaskan dari kehidupan umat manusia; begitu besar kebebasan yang akan diberikan kepada orang-orang untuk berpartisipasi di dunia, untuk melayani di dunia ini, untuk mencintai di dunia ini, ketika pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka baik-baik saja. Mereka tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk menjadikan diri mereka baik, merubah diri mereka, selalu takut membuat kesalahan. Bila anda merasa damai dengan diri anda sendiri, anda pun akan merasa damai dengan orang lain, tidak peduli siapa pun mereka. ***

* Ajahn Brahmavamso adalah Kepala Vihara Bodhinyana di Australia Barat. Artikel Dhamma ini disadur dari sebuah ceramah yang beliau berikan di Dhammaloka Centre di Perth pada tahun 1990

Sumber : “On Making A Mistake” (http://www.forestsangha.org)